auriNgoNpaiSte

Nott SunShiNe. Nott SoNNeNScheiN. Now auriNgoNpaiSte.

Gasetia…

Posted by Madame Qikas on September 14, 2007

Nggak, di entri ini saya nggak akan merentet soal keaduhaian cowok yang saya taksir. Entri kali ini lebih ke kesadaran saya sebagai orang yang mudah naksir cowok (karena saya bukan lesbi —- kalaupun lesbi saya milih-milih :p). Semalam sewaktu merenung dan menikmati rokok terakhir sebelum bulan puasa, saya berpikir. Saya punya sifat yang sangat jelek.

Entri kali ini lebih ke asalmuasal sifat jelek saya.

Yayayayaya, sifat jelek itu ialah jadi seseorang yang gasetia. Saya rasa ini sebabnya saya nggak punya hubungan yang langgeng sampe sekarang. Saya cenderung lirik-lirik yang laen :p

Mari bahas sifat jelek ini: nggak setia. Yayayaya, setiap kali saya menjalin hubungan dengan seseorang, walaupun sudah terikat secara informal (baca: pacaran), saya tetep nggak bisa berenti ngeliatin cowok laen, dan kalau ternyata yang baru sudah menunjukkan tanda-tanda oke, dan saya nggak bisa menduakan yang lama, yang paling sering muncul di pikiran saya ialah: “Duh, gimana ya caranya putus sama yang lama?”

Biasanya, kalau sudah begitu, saya mulai menelpon temen-temen akrab saya yang mengerti (dan cenderung mendukung) sifat jelek saya, untuk curhat. Thank God, Endonesa punya flexi, 5 jam nelpon berturut-turut juga ga kerasa. Yayayaya, saya sedih karena flexi itu ga bisa dibawa ke tempat tinggal saya yang baru.

Tiap kali saya curhat soal gandengan saya yang lama, mereka biasanya sudah punya reaksi yang sama (lantaran mereka sudah kenal baik sama sifat-sifat jelek saya). Mereka biasanya bilang: “Lagi? Emang kali ini kamu naksir siapa?”

Yayayayaya, mereka sudah hapal kalo saya itu orangnya gasetia…

Trekbek ke satu tahun yang lalu, saya sebetulnya orang yang sangat setia dan percaya, cinta itu satu, nggak bisa diduakan. Yayayaya, the words are so lame, I know, I know.

Saya sangat membenci orang yang menduakan kekasihnya, dan menurut saya, mereka itu tidak pantas hidup. Tapi sekarang, kembali ke masa ini, saya ialah salah satu dari para pendua itu. Sudah nggak terhitung berapa kali saya berusaha menduakan, mentigakan, bahkan sempat meempatkan (bener ga ya imbuhannya?) pacar saya yang sekarang (Statusnya saya gantungkan, lantaran saya malas).

Dan sekarang, kenapa saya begini? Kok bisa?

Hmmm… saya sih cenderung menyalahkan mantan saya yang lama, yang 6 bulan. Si 6 bulan ini ialah orang yang (dulu) betul-betul berarti buat saya. Saya rela mengorbankan apa saja demi dia, bahkan sampai ke tingkat kepercayaan (setelah saya recall lagi, saya beruntung sudah mengakhiri hubungan dengan si 6 bulan. Tuhan saya jauh lebih berarti daripada dia, eventho saya tahu saya ga alim)

Sampai akhirnya saya dan dia putus. Kenapa? Karena saya sudah muak dengan sifatnya yang selalu menghina-dina kepercayaan saya. Signature wordsnya ialah: “I love every part of you, except for that belief of yours.”

Anjing.

Saya bertahan, selama 6 bulan dengan kata-kata dia itu. Saya berusaha meyakinkan dirinya bahwa kepercayaan saya itu nggak seburuk dan sejelek yang dia kira. Nggak terhitung sudah berapa kali saya menangis lantaran sakit hati, tapi saya dengan bodohnya masih mempertahankan hubungan ini. Hiiiihhhh…

Sampai akhirnya, saya bertemu dengan seseorang, panggil saja BuGer (ini abbreviation. Ada yang tau kepanjangannya? Kalo iya, dapat hadiah :p). Dia betul-betul berbeda dengan si 6 bulan. Sangat berbeda. Hubungan saya sama si BuGer ini berjalan lancar. Saya nyaman sama dia, walaopun saya nggak tau apakah dia nyaman ato nggak sama saya :p.

Saya sering dilanda rasa bersalah tiap kali saya berbicara sama si BuGer. OMGWTFBBQ… saya mulai suka sama orang ini. Gimana dengan si 6 bulan!?

Tapi perasaan itu toh lama-lama menghilang. Apalagi saudara sepupu saya yang mengetahui hubungan saya dengan si 6 bulan (hubungan ini dirahasiakan dari keluarga besar lantaran suatu alasan :p tanya kenapa?), mendukung acara perselingkuhan saya. Meskipun ini nggak bisa disebut 100% selingkuh, lantaran saya nggak tahu apakah si BuGer suka juga sama saya atau nggak. Tapi saya tetep keukeuh pengen putus sama si 6 bulan. Kenapa? Karena saya sakit hati, dan karena saya nggak yakin kalo si BuGer mau dideketin sama saya kalau saya masih punya gandengan. Fufufufu.

Akhirnya, setelah 1 bulan pikir-pikir, saya ucapkan juga kata putus itu. Apa yang terjadi? Si 6 bulan mengancam bunuh diri.

Well, silakan saja. Sabodo teing. Saya sudah punya orang lain yang saya suka.

Toh akhirnya juga dia gajadi bunuh diri. Takut mati. Halah. Katanya dia nggak ber-Tuhan, tapi kok takut mati? Tsuih!

End of note, entrri saya kali ini sudah kepanjangan. Make it fast, yayayaya. Nah, sekarang pertanyaan yang tersisa ialah: “Apa saya bisa dapetin si BuGer?”

Saya mengaku sama dia kalau saya suka dia, sukasesukasukanya. Sangat suka. Saya serius kali ini. Waktu saya minta dia jadi pacar saya (di bawah atmosfir bercanda), dia tiba-tiba jadi serius dan bilang: “I’m afraid of responsibility and commitment, sunshine”.

JDEGERRRRpluk *lalalalala, tau ini bunyi apa kan?*

Oh, yayaya, dia selalu memanggil saya Sunshine atau Sonnenschein. Ain’t that sweet?

Sewaktu saya tanya, apakah dia suka juga sama saya. Dia bilang: “I really, realy like you, but I’m not sure”. Haiya…. Dia bilang dia mungkin suka sama saya sebagai sister, yayayaya. Pas saya tanya dengan serius, apa dia yakin dengan perasaan itu, dia bilang dia gayakin juga. Dia gak ngerti sama perasaan dia sendiri. Halah.

Karena sebel, saya bilang: “I have to move on, I need to stop this feelin of loving you. I will try to like you the same way as you do to me”

Setelah itu saya putus kontak dari dia selama 1 minggu . Cari pelampiasan. Ke tempat-tempat yang banyak cowok-cowok bodoh sok metropolis yang merasa dirinya playboy. Nanti selanjutnya saya ceritakan soal ini.

Pas saya ketemu lagi sama si BuGer, tampaknya dia sudah kangen berat, moodnya bagus. Apa dia mulai mengerti perasaan dia sendiri, saya nggak tahu. Yang pasti, saya minta maaf sama dia karena gakasi kontak selama satu minggu. Kita mulai ngobrol, seperti biasa.

Pas dia tanya kenapa saya menghilang dari peradaban selama satu minggu, saya jawab: “Oh, I forget to tell you, I have a new boyfriend. We’ve been dating for 6 days now, that’s why I’m so busy lately.”

Dia speechless.

Rasain.

See? Dari sana saya belajar, bahwa jadi gasetia itu ialah satu hal yang diperlukan.

Cintai dirimu sendiri, supaya nggak sakit hati.

Advertisements

2 Responses to “Gasetia…”

  1. cK said

    wakakakakakakkk 😆

    Natt reply
    Bener kan?? Ada pesan moralnya louh >D

  2. cK said

    btw ini yang bikin saya ngakak:

    “Oh, I forget to tell you, I have a new boyfriend. We’ve been dating for 6 days now, that’s why I’m so busy lately.”

    *masih ngakak* 😆

    Natt reply
    Dan dia speechless abis itu :p
    *jahat*
    😈

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: