auriNgoNpaiSte

Nott SunShiNe. Nott SoNNeNScheiN. Now auriNgoNpaiSte.

Terancam kehilangan masa depan

Posted by Madame Qikas on September 14, 2007

Saya kuliah di negeri orang. Di satu universitas yang (katanya) masuk peringkat 50 besar dunia. Universitas yang semua orang berusaha mati-matian untuk bisa diterima, dan belajar di sana.

Saya masuk universitas ini, alasannya supaya bisa kabur dari negeri saya sendiri. Muak dengan orang-orang yang memandang saya sebelah mata. Lucunya, waktu saya mendaftar untuk masuk universitas ini, mereka semakin memicingkan mata terhadap saya. Kalau dulu mereka memandang saya sebelah mata, saat saya mendaftar kesini, mereka tidak memandang saya sama sekali.

Yayayaya, memangnya siapa sih saya? Mereka lebih menjagokan anak-anak macam A, B, atau C, yang selalu masuk 5 besar di sekolah, yang sering menang lomba karya ilmiah, atau yang masuk jajaran olimpiade.

Lah, saya? Saya dikenal suka tidur di kelas, hanya bisa pelajaran bahasa inggris, seniman kesasar, orang sinis, dan yang jelek-jelek lainnya. TQ sahabat saya, paling tidak satu minggu sekali, ada yang bertanya kepada dirinya: Kenapa sih kamu masih mau bersahabat sama dia?

Outch… yayayaya, saya tahu itu sakit.

Tapi saya tidak perduli omongan mereka toh. Tidak peduli cemoohan (orang2 yang disebut) teman-teman saya, ataupun pandangan sinis guru-guru saya. Saya berusaha (bukan belajar, saya anti belajar) mati-matian supaya bisa diterima di universitas ini.

As the result? Saya diterima, A, B, atau C nggak ada yang diterima. Tidak ada satupun pendaftar lainnya dari sekolah saya yang diterima disini.

Wow… bangga?

Tidak.

Karena mereka merasa: ah, cuma kebetulan. Atau mereka bilang: jurusan yang dia ambil itu kan mudah.

Whatever.

Berada jauh di negeri orang, bikin saya kehilangan sahabat dekat saya. Berat rasanya. Sampai sekarang berat, sangat berat sekali. Banyak orang yang dengan mudahnya bilang: Sahabat itu mudah dicari toh? Cari saja yang baru.

Yayaya, saya tahu saya harus move on, tapi itu nggak mudah. Saya kurang bisa percaya sama orang. Sure, saya terlihat sebagai orang yang happy-go-lucky dari luar, tapi sebenernya nggak. Honestly, saya ialah satu dari sekian banyak orang yang mengaku golongan emo. Itu kalau misalnya ada pengkategorian apa yang paling mirip sifat saya. Tapi sebetulnya, saya kurang suka disebut begitu. Saya bukan emo. Saya ya saya.

Saya orang yang cenderung tidak pernah marah. Serius. Setiap kali ada kejadian yang bisa bikin saya marah (beneran marah, bukan main2), saya cenderung diam. Mingkem. Ambil rokok, minum bir. Terus begitu. Nanti marahnya hilang sendiri.

Apa itu benar?

Nggak.

Saya merusak tubuh saya sendiri. Kalau lagi stress, saya bisa menghabiskan 40 batang rokok dalam 3 hari. Untung saya kurang suka bir, kalau tidak… yah, nggak tahu deh…

Selain itu, itu nggak menyelesaikan masalah. Marah yang ‘katanya’ hilang itu, sebetulnya saya tahan. Saya pendam. Kalau sudah meledak, saya perlu pelampiasan.

Kalau dulu, biasanya saya melampiaskan dengan merusak barang, mengoyak-ngoyak plushie yang ada di kamar saya, menyayat-nyayat tangan sendiri, ataupun memukul-mukul didnding sampai tangan saya nyaris retak.

Kalau sekarang? Rokok lagi. Minum lagi. Jalan-jalan lagi. Buang duit lagi. Anjing…

Yang paling parah, saya skip kelas di kuliah. Nggak terhitung sudah berapa kali saya skip dalam waktu nyaris dua bulan belakangan ini. 10? Nggak tau.

Saya benci diri saya yang selalu terbawa-bawa masalah, dan nggak bisa membedakan masalah pribadi saya dengan kuliah. Benci! Kenapa saya terus skip kelas, padahal, masalahnya bukan di kuliah (oke, saya cenderung nggak mengerti pelajarannya, tapi saya bisa berusaha untuk mengerti). Tapi kenapa saya skip kuliah?

ARGH….

Sekali lagi:

ARGGGGGHHHH!!!

Cenderung sub-consciously saya skip kelas kuliah. Tutor saya bete dong, jelas. Saya dilaporkan ke vice-dean. Dipanggil ke kantornya.

Dia bilang: You cant keep on like this. You have to prove to them that you can do this better than last year. I know you can do this. If you can’t you’ll be graded as failed in this subject.

Yayayaya, such moving words…. Halah.

Saya tau, saya bisa. Saya tau saya punya kemampuan. Tapi saya nggak tau kenapa saya begini? Kesepian? Mungkin…

Ada tiga orang di negeri ini, yang biasanya mendengarkan masalah saya.

Saya kehilangan dua diantara mereka. BuGer, teman online saya, marah sama saya dengan alasan yang tidak saya mengerti sama sekali. Some say he’s jealous. Nggak mungkin.

Roomie saya, mendiamkan saya hampir seminggu ini, no exchange of words except: I’m leaving, bye. Dengan alasan yang saya nggak tahu mengapa.

Saya ialah orang yang paling tidak peka dengan masalah relationship.

Anehnya, saya bisa dengan mudah memberikan solusi-solusi ke masalah teman-teman saya, dan biasanya solusi yang saya berikan selalu berhasil. Saya bisa berpikir logis.

Tapi giliran diri saya sendiri, kok begini?

Argh…

Well, saya masih sempet tenang. Saya punya counsellor saya yang manis, Alice. Alice yang mengerti dan tahan mendengarkan cerita-cerita saya yang terang-terangan isinya masalah smua…

Di akhir sesi konsultasi kita kemaren, dia bilang gini: “Next week is our last meeting, I’m going to leave this place, taking a break and then find a new work.”

JDEGERRR (without pluk, karena dilarang merokok di counselling room…)

Yayaya. Semua orang meninggalkan saya.

Reaksi saya waktu dia bilang begitu? Dengan tanpa intonasi yang berarti, saya bertanya: “When?”

Gitu aja.

Sehabis itu saya keluar dari ruangan. Kemana aja. Saya mau teriak, saya mau meledak! Agh…

Lari lagi ke rokok. Lari lagi ke bir. Puasa saya batal. Anjing.

Oh iya, saya masih punya Tuhan ya?

Tapi apa dia mau nerima saya yang sudah melakukan terlalu banyak dosa ini? Oh well… Tuhan Maha Pengampun kan? Tunggu dzuhur, sebentar lagi saya mau shalat. Ini baru jem 12.45pm.

Sebantar… barusan ada telpon.

Ayah saya nelpon, pukul 12.48pm. Kasih kabar: Sha, pamanmu meninggal.

See? Apa lagi yang akan menghilang dari diri saya!? Apalagi yang mau diambil!? Ambil nyawa saya saja sekalian!

Saya mau menangis… tapi saya tidak punya tempat buat menangis.

Saya menginginkan dua lengan yang memeluk saya dan berbisik: there, there…

Sigh…

On the side note, jangan ambil nyawa saya dulu, ya? I still need to find those two arms who’ll hold me tight and whispers: there, there on my ear.

Advertisements

3 Responses to “Terancam kehilangan masa depan”

  1. Halo….
    Salam kenal,
    Maaf, sampeyan anak ******** ******** ********** juga ya?

    Kalo nulis puasa berarti muslim ya? Koq nggak pernah kenal? Hahaha…. Anyway moga2 ente bisa jadi orang yang tabah.

    Masih banyak koq orang laen yang masa depannya lebih terancam dari ente. Dan ente masih belom jadi orang paling nggak beruntung didunia.

    Sori kalo sotoy…

    Natt reply
    darimana anda tahu saya anak sana?? O.o Stalker!!
    Yayayaya, saya sabar kok, saya sabar… 😛
    Iya, saya muslim, seenggaknya itu yang ditulis di KTP, selebihnya, biar Tuhan yang menentukan.
    Wajar ko kalo nggak kenal, saya orangnya jarang turun gunug :p

    Edit: Ehemm… nama kampus diedit ya pag 😀

  2. Indah said

    huhuhu.. Blog-walking..

    Humm.. dak nyangko be sihh.. aku pikir malah kalo ke ***.. aman natt.. asal tau jalannyaa.

    di *** kan banyak budak indo.. kau harusnyo dak dewekan..
    asal kau buka diri be..

    saran be sihh.. cari temen muslim natt,, kalo bisa yang muslim.. yang solat minimal.. paling idak ado yang biso ingeti..

    Natt reply:
    Blogwalking kog nyasar kesini In? Hoho…
    Hmmm… Iya… saran sudah dipatuhi bu… Tnang aja…
    I’m trying to pull myself together now 😀

    edit: Nama kampus disensor ya buw 😀

  3. gita said

    Halo natt! natt nett nott yah..hihi..keren juga..
    beidewei sabar aja deh natt…
    masih ada YMku kan di listmu?
    kalo pengen cerita2 buzz aja yo 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: